Buy lottery app_Football betting app_21 o'clock online_U.S. online casino_Bodog Sports Account Website

  • 时间:
  • 浏览:0

SRoulette ChRoulette Chartartm pRoulette ChartuRoulRoulette Chartette Chartn membentuk boy group H.O.T atau High Five of Teenagers yang album pertamanya terjual 1,5 juta kopi. Keberhasilan itu memunculkan idola grup baru seperti Sechs Kies, S.E.S hingga Fin.K.L. Dari sinilah penggemar menciptakan budaya fandom mereka sendiri. Saat itu cakupannya masih sedikit, sehingga fan mampu terhubung dengan “manajer fandom” untuk mendukung idola melalui pembelian album fisik dan merchandise.

Fandom atau penggemar sebelumnya menyalurkan dukungan kepada idola lewat warna, media balon, kertas karton yang dihias sedemikian rupa, sampai jas hujan. Seiring berjalannya waktu dan teknologi, media penyalur identitas setiap fandom perlahan mulai terganti dengan alat yang lebih modern, dalam hal ini penlight atau sebuah stick cahaya yang berwarna. Kemudian, bertransformasi kembali menjadi lightstick.

Misalnya saja saat ARMY, fan BTS melakukan pendanaan mengumpulkan 1 juta dollar dalam waktu kurang dari 24 jam untuk kampanye #BlackLivesMatter. Di Indonesia sendiri tak sedikit fandom berbondong-bondong berdonasi untuk bencana alam, terhitung dari 16 komunitas K-Pop yang berhasil mengumpulkan sumbangan sebesar 99,727 US dollar atau senilai Rp1,4 miliar pada Januari 2021 silam. Tindakan ini dilakukan sebagai tanda kepedulian akan perubahan iklim yang berperan besar pada bencana di suatu negara.

Lightstick yang punya bentuk khusus dicetus oleh boy group BigBang yang kala itu ingin mebedakan VIP, nama fandom mereka dengan penggemar grup lainnya. Hal ini kemudian menjadi tren bagi grup idola di luar sana untuk membuat lightstick dengan ciri khas. Pasalnya, kalau cuma mengandalkan warna saja makin lama akan semakin sulit mengingat keterbatasan, sedangkan grup baru muncul setiap tahunnya. Perlahan, lightstick menjadi dukungan penggemar kepada sang idola, hingga identik sebagai warna fandom yang mencitrakan identitas mereka.

TVXQ misalnya, memiliki fandom bernama Cassiopeia yang dikenal dengan warna pearl red. Penamaan Cassiopeia sebagai nama fandom juga bukan sembarangan. Alasannya adalah saat nama TVXQ ditulis menggunakan keyboard komputer akan membentuk rasi bintang cassiopeia. Rasi tersebut memiliki lima bintang yang dianggap mewakilkan tiap anggota TVXQ pertama kali dibentuk.

Fandom K-Pop atau kependekan dari fan kingdom sebenarnya merupakan istilah bahasa Inggris yang punya arti kepenggemaran. Maka dari itu, kata yang satu ini bisa dipakai secara luas untuk mengidolakan seseorang di wilayah mana pun. Namun, seiring berjalannnya waktu, istilah fandom semakin terkenal dan menjadi karakter di dunia K-Pop. Fandom biasanya dipakai sebagai identitas dari para fan. Wadah ini menentukan siapa yang disukai dan tokoh mana yang didukung oleh fan tersebut. Sekilas nama-nama fandom kemungkinan terdengar acak, ternyata di baliknya punya makna yang mendalam lo.

K-Pop memang santer terdengar di tahun 2009, ketika beberapa grup idola akhirnya menembus pasar negara tetangga seperti Jepang dan Tiongkok. Namun, sebenarnya, K-Pop lahir pada tahun 1992 ketika grup Seo Taiji and Boys memperkenalkan genre baru di musik Korea Selatan. Berdasarkan laporan delivered.co.kr, para fan mengakui bahwa periode ini merupakan generasi pertama era K-Pop.

Harap berlangganan  atau beli akses artikel ini untuk melanjutkan.

Yonhap News menyebut H.O.T dan grup lain yang muncul pada 1990-an adalah “generasi pertama” grup idola K-Pop. Pada pertengahan hingga akhir 2000-an, SM Entertainment memperkenalkan “generasi kedua” dengan munculnya TVXQ, Super Junior, Girl’s Generation, SHINee, dan f(x). Idola lain seperti BigBang, Wonder Girls, 2NE1, 2PM, 2AM juga lahir pada masa kedua ini. Ada juga solois seperti Rain, Se7en, BoA yang sukses memasarkan karyanya ke manca negara.

Nah, Hipwee Premiumkali ini akan membahas seputar fandom di industri hiburan Korea Selatan. Sekaligus menjawab warna yang kerap dijadikan identitas mereka sebagai sekumpulan penggemar. Berikut ulasannya yang bisa kamu simak~



Lanjut baca dengan login terlebih dahulu.

Saat Seo Taiji and Boys berhasil menggaet penonton lokal mereka, akhirnya semakin banyak calon idola bermunculan lewat sebuah agensi. Sebut saja SM Entertainment yang langsung melirik peluang target pasar remaja dengan melakukan audisi di Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Upaya ini nyatanya berbuah manis pada 1996.

Sama halnya dengan boy group BTS yang identik dengan warna ungu. Dalam salah satu konser, Kim Taehyung sempat menjelaskan makna warna fandom tersebut. Menurutnya ungu merupakan warna terakhir di pelangi, ini berarti ia memiliki panjang gelombang terkecil dan frekuensi tertinggi di antara cahaya tampak. Ia menyebut makna warna tersebut sebagai rasa cinta dan kepercayaan kepada ARMY, fandom mereka, dalam jangka waktu yang lama.

Beda lagi dengan Super Junior yang memiliki fandom dengan nama E.L.F atau Everlasting Friends. Nama fandom ini mewakilkan kedekatan dan ikatan yang kuat antara Super Junior dan para penggemarnya. Fandom mereka identik dengan warna sapphire blue. Demikian dengan SHINee yang menyebut nama fandomnya Shawol, yang bermakna ‘SHINee World’ atau dunia bagi SHINee. Fandom mereka mempunyai warna resmi pearl aqua blue atau selintas terlihat seperti warna mint.

Kalau kamu sempat menonton drama Korea “Reply 1997”, ada salah satu adegan yang menggambarkan budaya fandom fanatik dengan konotasi negatif. Di sana terlihat adegan penggemar H.O.T dan Sechs Kies yang bertarung bukan hanya secara verbal, melainkan juga fisik untuk melindungi idola mereka. Belum lagi dengan munculnya “sasaeng” atau tipe pengemar yang menguntit dan menggangu privasi. Namun, seiring berjalannya waktu, oknum dari fandom tersebut berbenah hingga mampu memberikan dampak besar untuk lingkungan.

Media sosial seperti Facebook, YouTube, dan Twitter diramaikan oleh fan idol yang membuat nama mereka semakin santer terdengar hingga kerap manggung di negara lain. Sejalan dengan itu, industri hiburan Korea Selatan semakin berkembang, muncul generasi ketiga yang ditandai dengan boy group EXO pada 2012. Kemudian, diikuti dengan karya dari BLACKPINK, BTS, TWICE, GOT7, Seventeen, hingga Red Velvet yang eksis hingga sekarang. Di balik ketenaran mereka, nyatanya ada andil fandom di sana. Penggemar menunjukkan upaya dan dukungan dalam pembelian musik digital, streaming video, dan banyak lagi.

Fandom bukan hanya kumpulan penggemar tetapi mereka yang mempunyai satu misi untuk saling mendukung. Berdasarkan laporan dari delivered.co.kradanya fandom juga berkontribusi besar bagi kemajuan ekonomi, terlebih mereka terkenal loyal dalam menyebarkan karya terbaru idola, streaming berbayar, hingga pembelian K-Pop merchandise. Nah, itu dia serba-serbi fandom idola Korea Selatan. Selain mendukung idola, mereka nyatanya juga berkontribusi untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Kalau kamu termasuk salah satu bagian dari fandom yang mana?

Industri hiburan Korea Selatan semakin menunjukkan taringnya di kancah internasional. Sederet bintang papan atas dari Negeri Gingseng belakangan menjadi sorotan dunia. Kalau kamu mengaku sebagai penggemar K-Pop, pasti sudah nggak asing lagi dengan fandom, istilah yang merujuk pada fans club suatu grup atau penyanyi tertentu. Tak hanya grup K-pop , solois seperti IU, Ailee, hingga Psy juga memiliki nama fandom tersendiri lo.

Fandom K-Pop/ Infographic by Hipwee